Ilustrasi/uniba

Sebelumnya kita telah membahas tentang percobaan tindak pidana, sekarang kita akan bahas bagaimana sih ajaran tiada pidana tanpa kesalahan itu. Yuk simak penjelasannya.

Makna Tiada Pidana Tanpa kesalahan

Asas Tiada Pidana Tanpa Kesalahan atau Asas Kesalahan mengandung pengertian bahwa seseorang yang telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan hukum pidana yang berlaku, tidak dapat dipidana oleh karena ketiadaan kesalahan dalam perbuatannya tersebut.

Menurut Moeljatno, sebagaimana dikutip oleh Romli Atmasasmita dalam bukunya Rekonstruksi Asas Tiada Pidana Tanpa Kesalahan: Geen Straf Zonder Schuld (hal. 141), asas ini berarti orang tidak mungkin dipertanggungjawabkan (dijatuhi pidana) jikalau tidak melakukan perbuatan pidana.

Dalam hukum pidana seseorang itu dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan yang dilakukannya apabila ada kesalahan. Menurut ajaran Schuld Leer, kesalahan itu dapat dilihat dari segi :

Kesalahan dalam etika bermasyarakat

Yaitu hubungan jiwa antara seseorang yang melakukan perbuatan yang sedemikian rupa, sehingga perbuatannya itu dapat dipersalahkan kepada sipembuatnya. Pada umumnya keadaan jiwa sipembuat itu dapat dipersalahkan apabila jiwa seseorang itu adalah sehat Seseorang dapat dikatakan mempunyai jiwa yang sehat, apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tertentu, menurut Prof. Van Hamel, yaitu :

  1. Seseorang dapat dipersalahkan atas perbuatannya, apabila keadaan sipembuat dapat memahami nilai dari perbuatannya dan dapat mengerti akibat-akibat dari perbuatannya;
  2. Apabila ia dapat memahami bahwa perbuatannya itu menurut paham masyarakat adalah perbuatan yang dilarang; dan
  3. Orang itu harus menentukan kehendaknya terhadap perbuatannya.

Sedangkan menurut Prof. Simons, ada 2 syarat, yaitu :

  1. Jika seseorang dapat menginsyafi, bahwa perbuatannya itu adalah perbuatan yang dilarang; dan
  2. Ia dapat menentukan kehendaknya terhadap perbuatannya.

Selanjutnya penjelasan KUHP, seseorang itu tidak dapat dipersalahkan apabila :

  1. Seseorang itu tidak bebas menentukan kehendaknya terhadap perbuatannya; dan
  2. Seseorang itu tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya sedemikian itu adalah perbuatan yang terlarang.

Contoh : Orang yang tidak bebas melakukan kehendaknya, ialah orang yang dipaksa oleh orang lain untuk melakukan perbuatan yang terlarang. Seseorang yang dikatakan tidak menyadari/menginsafi, bahwa perbuatannya itu adalah perbuatan yang terlarang, yaitu apabila seseorang yang melakukan perbuatan dalam keadaan tidak sadar, misalnya orang yang sedang emosionil/sangat marah sedemikian rupa sehingga ia tidak menyadari perbuatannya.

Kesalahan dalam hukum pidana

Berdasarkan uraian diatas, bahwa ajaran mengenai kesalahan, tentang asas tiada pidana tanpa kesalahan adalah seseorang tidak dapat dipidana apabila ia tidak mempunyai kesalahan. Sebagai landasan tiada tiada pidana tanpa kesalahan adalah seseorang itu tidak mempunyai kesalahan atau sesuatu yang meniadakan kesalahan, misalnya karena overmacht (keadaan terpaksa). Selain itu, sebagai sandarannya adalah perbuatan melawan hukum.

Dalam hal ini, walaupun Undang-Undang secara tegas mengatur suatu perbuatan itu tidak diperkenankan atau tidak dibenarkan, seseorang itu tidak dapat dihukum, misalnya seseorang menjalankan perintah jabatan, dalam keadaan membela diri (noodwer), karena keadaan jiwa terancam, ia lalu melakukan pembelaan dengan menyerang lawannya, sehingga lawannya tersebut terluka parah dan akhirnya meninggal, maka petugas yang bersangkutan tidak dapat dihukum, karena dianggap tidak bersalah.