Oleh : Theresia Rachelita Devia Irani, Mahasiswa Universitas Indonesia

Film Snowpiercer merupakan sebuah film yang mengangkat cerita perjalanan sebuah kereta api yang mengelilingi dunia selama hampir 17 tahun, membawa sejumlah kelas manusia yang masih bertahan di bumi. Pada awalnya, akibat pemanasan global para peneliti membuat suatu penelitian tentang alat yang dapat mendinginkan bumi. Namun, ternyata penelitian itu gagal dan membuat permukaan bumi kembali kepada jaman es. Manusia yang masih bertahan pun diangkut menggunakan sebuah kereta abadi yang telah dirancang untuk dapat mengitari dunia selama perubahan iklim gagal tersebut terjadi.

Di dalam kereta itu, terdapat 3 kelas penghuni. Pada gerbong paling depan, diisi oleh pemimpin sekaligus pencipta kereta tersebut, lalu gerbong pada kelas dua berisi para bangsawan yang mampu membayar mahal di kereta tersebut, dan yang paling terbelakang adalah berisi orang-orang yang hanya menumpang atau dengan kata lain mereka adalah masyarakat kelas bawah. Masing-masing manusia di gerbong tersebut mendapatkan pelayanan yang sangat kontras berbeda, terutama pada gerbong terbelakang. Mereka tidak pernah tahu bagaimana kehidupan di gerbong depan mereka, karena pembatas antara gerbong dijaga sanget ketat dan juga dikunci.

Suatu saat, akibat sumber daya makanan pada gerbong belakang dan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi, munculah pergerakan perlawanan masyarakat kelas bawah tersebut untuk meminta keadilan dan berusaha menguasai sumber daya di kereta tersebut. Di tengah-tengah pergolakan itu, munculah tokoh pelopor pergerakan yaitu Curtis dan juga Giliam yang dianggap sebagai tetua dan ayah sendiri oleh Curtis. Mereka pun menyusuri setiap gerbang, dengan penuh perlawanan. Rintangan yang mereka hadapi tidak lah mudah, dimana mereka harus bertarung bahkan harus saling membunuh demi dapat menuju gerbong terdepan. Hingga akhirnya tersisa Curtis yang bisa menuju gerbong terdepan, dan bertemu dengan Wilford sang masinis sekaligus pencipta dari kereta abadi tersebut. Ketika sampai digerbang tersebut, merekapun awalnya berbincang dan Wilford menyatakan bahwa ia sebenarnyalah yang menyususn scenario pemberontakan ini bersama Giliam, sahabatnya di gerbong terbelakang, yang mana Giliam sendiri merupakan tetua dan orang yang banyak memperjuangkan pemberontakan ini bersama Curtis.

Skenario rencana dari pemberontakan tersebut adalah untuk mengurangi jumlah penumpang kereta demi penghematan sumber daya, dan juga berusaha mencari pemimpin tangguh kereta itu lagi setelah Wilford. Disini juga Wilford menunjukan bagaimana kereta tersebut dapat terus berjalan. Ternyata anak-anak yang sering dibawa dari gerbong belakang dipekerjakan untuk mengganti mesin-mesin kereta yang mulai rusak. Hal ini sontak membuat Curtis marah dan berusaha mengeluarkan salah seorang anak yang terlihat sedang menjalankan mesin tersebut dibawah gerbong. Namun usahanya gagal dihalangi oleh Wilford, disinilah terjadi ketegangan antara keduanya. Untungnya datanglah anak dari orang pemegang kunci dari setiap gerbong yang melakukan perlawanan bersama dengan Curtis sebelumnya, yaitu Yona. Karena kereta mulai berjalan tak terkendali akibat perselisihan Curtis dan Wilford, Yona pun segera membawa anak yang coba diselamatkan oleh Curtis untuk lompat keluar gerbang. Akhirnya kereta pun hancur, dan mereka yang selamat akhirnya bisa keluar dari kereta tersebut dan menemukan bahwasanya es dibumi mulai kembali mencair, dan mereka masih bisa bertahan hidup kembali dengan beradaptasi. Akhirnya cerita ini pun selesai dan berakhir dan ditunjukanlah kepada penonton tentang situasi yang mulai membaik dimuka bumi.

Teori Analisis

Berdasarkan jalan cerita dari Film Snowpiercer, saya menganalisisnya secara mendalam menggunakan perspektif Antropologi Politik, khususnya konsep governmentality dan activism. Kedua konsep ini sendiri cukup relevan karena dalam film ini saya dapat menemukan bagaimana governmentality yang berasal dari pemimpin kereta yang berada di gerbong terdepan kereta tersebut, sedangkan activism sendiri berasal dari masyarakat gerbong terbelakang.

Governmentality diartikan sebagai upaya untuk mengarahkan perilaku manusia dengan serangkaian cara yang telah dikalkulasikan dengan sedemikian rupa. Dengan tujuan untuk menjamin ‘kesejahteraan masyarakat, perbaikan keadaan hidup mereka, peningkatan kemakmuran, peningkatan usia harapan hidup, kesehatan dan sebagainya melalui kekuasaan yang dimiliki. Konsep Governmentality sendiri merupakan salah satu konsep yang digagas oleh Tania Li. Governmentality yang ia bahas mengacu pada karya Foucault, yang menggunakan konsep Governmentality untuk membedakan tujuan pengaturan kekuasaan terpusat, atau dengan kata lain, itu mutlak berlaku untuk raja. Pembentukan pengaturan ini adalah untuk mewujudkan misi kesejahteraan rakyat dalam suatu pemerintahan tertentu. Analisis ini kemudian dapat dipelajari untuk memahami praktik kekuasaan yang mengartikulasikan unsur regulasi, kekuasaan absolut, dan disiplin. Dalam prakteknya, governmentality semacam ini mempengaruhi setiap kebijakan yang terjadi di negara tersebut, dan kebijakan tersebut dilaksanakan semata-mata atas dasar kepentingan individu, meskipun pada awalnya berusaha untuk menunjukkan kepentingan bersama.

Seperti yang telah dikatakan bahwasanya governmentality merupakan suatu konsep yang didasarkan pada konsep kekuasaan yang digagas oleh Facoult. Kekuasaan sendiri sebenarnya menurut Facoult adalah kemampuan memaksa orang lain untuk mengatur dirinya sendiri (self regulate), karena itu kekuasaan tidak top down tapi menyebar kemana-mana dan  ada dimana-mana, oleh karena itu tidak ada satu orang yang bisa lepas dari kekuasaan. Dimana hal ini terutama terbentuk dalam pranata atau institusi yang ada dalam masyarakat yang butuh pengetahuan. Bentuk pranatanya sendiri biasanya seperti keluarga, penjara, pendidikan dan lain-lain. Selain itu, kekuasaan bekerja untuk mendisiplinkan diri jiwa dan raga, jadi ia dikontrol dalam ruang dan waktu. Dari sinilah Focault berbicara lebih kepada institusi atau pranata, yang berkenaan dengan kekuasaan. Masyarakat dengan begitu tidak bisa lepas dari power relations, karena hal itu ada dimana-mana dan menyebar atau omnipresent ke pranata-pranata secara lebih efisien dan hegemoni. Jadi kita akan patuh sama power relation itu. Mekanisme ini disebut juga oleh Focault sebagai panopticon dalam gagasannya. Intinya, Focault menyatakan bahwa konsep kekuasaan adalah siapa yang memiliki knowledge dia dapat memiliki  power.

Selain governmentality, konsep yang akan digunakan dalam analisis film ini juga adalah mengenai activism khususnya mengenai gerakan sosial. Gerakan sosial sendiri merupakan suatu praktik yang lekat dengan bentuk perlawanan yang dilakukan oleh sekelompok orang banyak secara langsung dengan tujuan yang jelas.  Perlawanan ini sendiri biasanya bermula akibat ketidakpuasan akibat ketidakadilan. Gerakan sosial dilaksanakan oleh banyak orang atau secara kolektif yang memiliki tujuan yang sama, ideologi yang sama, terorganisir, dan gerakannya bersamaan dalam satu titik waktu dengan jangka yang cukup panjang. Kelompok yang melakukan pergerakan sosial biasanya berasal dari kelompok informal, biasanya dari sini mereka berusaha menyuguhkan opini publik yang mengharapkan dan menuntut suatu perubahan. Gerakan sosial terkadang bahkan mempu menggambarkan konflik kelas, karena biasanya seperti yang sering kita temui saat ini, gerakan sosial lebih kepada penuntuntan hak atas ketidakadilan yang dilakukan oleh kelas yang memiliki kuasa lebih tinggi, sehingga dapat mengontrol kelas atau kolektif lain dibawahnya. Selain itu, gerakan sosial juga tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia dan kesehariannya.

Dari pemahaman diatas kita bisa memahami bahwasanya gerakan sosial sendiri merupakan salah satu bentuk penuntuan atau bahkan perlawanan atas suatu hal yang dilakukan oleh suatu kolektif. Pada beberapa kasus yang sering ditemui,  biasanya dilakukan oleh kelas bawah terhadap kelas atas yang memiliki kekuasaan akibat adanya ketidakadilan, ketidakpuasan dan lainnya yang mereka rasakan dari aturan dan kekuasaan kelas atas. Gerakan sosial sendiri sangat erat kaitannya dengan teori governmentality atau kekuasaan yang dibahas oleh Tania Li sebelumnya, dimana gerakan sosial sendiri dapat terbentuk akibat ketidakpuasan pada adanya kekuasaan, dan pastinya definisi ini cukup relevan dengan apa yang akan dianalisa dalam film ini.

Analisis Film berdasarkan Teori yang digunakan

Berdasarkan teori governmentality kita bisa melihat bahwasanya dalam film ini, Wilford merupakan orang yang sangat memegang kendali dan kekuasaan atas seluruh penumpang gerbong kereta abadi tersebut. Wilford membuat berbagai kebijakan seperti pembatasan sumber daya bagi mereka yang berada di gerbong bagian belakang atau kelas terbawah, demi membatasi pengeluaran sumber daya yang mulai menipis di kereta tersebut. Wilford dan para pemegang kekuasaan lainnya juga banyak melakukan tindakan semena-mena seperti mengambil anak-anak kecil dari kelas belakang tersebut untuk dibawa ke gerbong depan, dengan alasan yang awalnya tidak diberitahu, namun ternyata setelah ditelisik anak-anak tersbeut digunakan untuk menjalankan mesin kereta yang mulai rusak. Selain itu, Wilford juga menunjukan bahwasanya ia sangat membedakan perlakukan terhadap para penumpang yang ada di setiap gerbongnya, terutama mereka kelas bawah yang ada di gerbong terbelakang tersebut, hal ini lah yang menggambarkan adanya kekuasaan absolut yang dimiliki oleh Wilford.

Dengan kekuasaan yang ia punya, Wilford dapat mengatur kelas-kelas dibawahnya semena-mena seperti apa yang dia mau, hal ini karena ia merasa ialah yang paling memegang kendali, pemilik, dan satu-satunya orang yang paham atau berpengetahuan dalam menjalankan kereta tersebut. Hal ini tentunya sesuai dengan apa yang Focault katakan tentang orang yang memegang kekuasaan dan mampu mengatur orang lain adalah orang yang tak hanya memiliki power, tetapi juga orang yang memiliki knowledge atau pengetahuan. Namun ternyata dibalik itu semua, pemberontakan yang terjadi adalah rencana dari dirinya sendiri. Rencana ini sendiri ia lakukan untuk mengurangi jumlah penumpang dan juga untuk mencari penerus tahtanya menjadi pemimpin kereta abadi Wilford. Rencananya ini ia awali dengan tindakan kesewang-wenangan, yang dimana akibat kesemena-menaanya ini, kelas bawah pun melakukan pemberontakan sampai kepada bunuh membunuh, seperti apa yang dia mau. Pemberontakan inilah yang akan dibahas dalam konsep activism, khusunya gerakan sosial.

Dalam konsep gerakan sosial, dengan konteks film ini masyarakat kelas bawah sendiri melakukan pemberontakan atas ketidakadilan dan kesengsaraan yang mereka alami akibat tindakan dari penguasa yang seakan melakukan banyak hal yang menyusahkan mereka. Para penghuni gerbong belakang melakukan perlawanan keras bahkan dengan fisik, serta mengorbankan nyawa demi menuntut keadilan dan penguasaan sumber daya. Mereka memiliki ideologi dan tujuan yang sama dalam pemberontakan ini, dimana mereka ingin membebaskan diri atas ketidakadilan dan ketimpangan yang dirasakan penumpang kereta gerbong belakang. Konflik perbedaan kelas disini sangatlah terasa, dan konflik inilah yang menjadi dasar mereka melakukan gerakan sosial ini.

Gerakan sosial mereka cukup terorganisir karena dipimpin langsung oleh Curtis, dengan banyaknya strategi yang telah dibuat sebelum melakukan pemberontakan. Curtis merupakan orang yang sangat berperan penting dalam pemberontakan ini, dimana dia lah pelopor dan penggerak sekaligus peran utama dalam film ini. Dari sini kita bisa melihat bahwa gerakan sosial yang mereka lakukan sendiri berbentuk suatu tuntutan atas ketidakadilan konflik kelas. Mereka sangat ingin merasakan hidup dengan baik, sumber daya yang cukup, dan kenyamanan seperti yang dirasakan oleh orang-orang yang berada di gerbong terdepan.

KESIMPULAN

Pada teori governmentality, kita bisa menemukannya pada beberapa adegan yang dilakukan oleh Wilford sebagai orang yang paling memegang kuasa di kereta abadinya tersebut. Kebijakan yang ia lakukan sebagai orang yang memegang kuasa dan pemerintahan ternyata cukup memberikan respon ketidakadilan dan kesengsaraan oleh kelas bawah. Hal ini lah yang mendorong kelas bawah digerbong terbelakang sendiri, melakukan pemberontakan besar-besaran menuntut keadilan dan sumber daya yang cukup. Pemberontakan inilah yang disebut sebagai gerakan sosial, dimana mereka mengingkan suatu tujuan yang sama, dilakukan secara terorganisir, dan juga dilakukan secara bersamaan.

Sumber:

Bayat, A. (2013). Life as Politics. How Ordinary People Change the Middle East. Stanford: Stanford University Press.

Foucault, M. (1977). Discipline and Punish: the Birth of the Prison. New York: Vintage Books.

Ho, B. J. (Director). (2013). Snowpiercer [Motion Picture].

Li, T. M. (2012). The will to improve: Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia.