Oleh : Vivi Lutfia – Tim Riset Yuris Muda Indonesia

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sering kali tertulis kata “sengaja” seperti pada Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan, Pasal 55 tentang pidana penyertaan dll.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimuat bahwa sengaja adalah dimaksudkan (direncanakan); tidak secara kebetulan yang dapat kita ambil kesimpulan bahwa orang yang melakukan suatu tindak pidana dengan unsur “sengaja” merupakan orang yang memang memiliki niat untuk melakukan tindak pidana.

Kesengajaan memiliki dua landasan teori yaitu adanya teori kehendak yang memicu terpenuhinya unsur-unsur delik yang dimuat dalam Peraturan perUndang-Undangan dan ada teori membayangkan yang memicu adanya bayangan atas timbulnya sesuatu akibat dari perbuatannya.

Lalu, tahukah anda bahwa kesengajaan terdiri dari beberapa macam dan jenis?

Kesengajaan

Menurut Criminal Wetbook 1908, Kesengajaan adalah kemauan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang atau diperintahkan oleh undang-undang.

Sejalan dengan ini, Prof. Satochid Kartenagara memberikan istilah Opset Wilken en weten (Kehendak dan Diketahui) yaitu :

“Seseorang yang melakukan suatu perbuatan dengan sengaja harus menghendaki (willen). Perbuatan tersebut juga harus menginsyafi (weten) akan akibat dari perbuatan itu.”

Secara general, pakar pidana memperkenalkan de will sebagai keinginan, kemauan dan kehendak yang mencakup:

  • Perbuatan yang dilarang
  • Akibat yang dilarang

Atau, dalam hal ini terjadi sebuah kausalitas dalam hukum pidana, hubungan sebab-akibat dari perbuatan pidana yang dilakukan oleh pelaku. 

Penerapan kesengajaan ini mengenal adanya dua sifat yaitu kesengajaan berwarna (gekleurd) dan kesengajaan tidak berwarna (kleur loss).

  1. Kesengajaan berwarna mensyaratkan bahwa pelaku tidak hanya menghendaki perbuatan, melainkan pelaku juga harus mengetahui perbuatanya melawan hukum (Dolus Malus). Jadi pelaku juga harus mengetahui bahwa perbuatan yang melawan hukum. Pandangan ini sudah banyak ditinggalkan karena akan terjadi beban yang sulit bagi jaksa dan hakim karena harus membuktikan bahwa pelaku memang menyadari perbuatannya melawan hukum.
  2. Kesengajaan tidak berwarna hanya mensyaratkan apabila petindak menghendaki perbuatannya dan tidak perlu dibuktikan bahwa pelaku mengetahui perbuatannya merupakan perbuatan melawan hukum.

Penempatan unsur sengaja pada rumusan delik tidak sama, namun terdapat prinsip bahwa semua unsur yang terletak dibelakang unsur sengaja akan diliputi unsur ini ( MvT), sedangkan yang terletak di depannya diobjektifkan (tidak perlu dikuasai unsur ini). Prinsip ini berlaku juga terhadap penggunaan istilah lain dari unsur sengaja misalnya Pasal 167 KUHP (Mengganggu ketentraman rumah) pengecualian dari prinsip ini adalah Pasal 187 KUHP.

Kealpaan

Dalam KUHP tidak diatur mengenai pengertian kealpaan. Tetapi dalam memorie Van Toelichting disebutkan bahwa kealpaan disatu pihak berlawanan dengan kesengajaan dilain pihak. Kealpaan merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan daripada kesengajaan akan tetapi bukan kesengajaan ringaan. Kealpaan dapat diartikan sebagai kurang penduga – duga atau kurang penghati – hati. Pada kata yang lain dari kealpaan adalah CULPA ,sembrono, atau nalatigheid. Menurut kesepakatan para pakar hukum pidana, kealpaan adalah bentuk kesalahan yang lebih ringan dari kesengajaan. Hal ini menyebabkan sanksi dari kealpaan  lebih ringan dari kesengajaan.

Bentuk-Bentuk Kealpaan 
Kealpaan dengan kesadaran/ Kealpaan disadari (bawuste schuld)

Kealpaan bentuk ini menempatkan pelaku sudah membayangkan atau menduga akan timbul akibat tetapi walaupun berusaha untuk mencegah akan tetap timbul akibat.

Contohnya: A mengendarai mobil dengan kecepatan 60 km/Jam, Ia melihat banyak orang menyeberang jalan, tetapi kecepatannya tidak dikurangi karena ia yakin bahwa kemampuannya menyetir dan rem mobilnya yang baik sekali sehingga ia merasa dapat menghindari tabrakan. Tetapi tiba-tiba dalam jarak dekat sekali seseorang menyeberang dari arah kanan dan dengan reflex ia membanting stir ke kanan dengan maksud melewati penyeberang itu dari arah belakangnya. Tetapi rupanya penyeberang itu justru ragu, sehingga ia mundur dan tabrakan tidak dapat dihindari.

Kealpaan tanpa kesadaran/ kealpaan yang tidak disadari (on bewuste schuld)

Kealpaan ini memberikan definisi jika pelaku tidak membayangkan atau menduga akan timbul suatu akibat yang dilarang. 

Pada pokoknya Kealpaan mempunyai kriteria

  1. Tidak ada kehati-hatian yang diperlukan untuk menentukan apakah seseorang telah berhati-hati atau tidak.
  2. Mempunyai parameter lain yaitu dengan diambil orang yang terpandai oleh golongan si pelaku (culpa levis). 
  3. Perbuatannya dapat dipersalahkan. 

Contoh : Dalam kasus pengemudi mobil harus diperhatikan keadaan mobilnya khususnya yang berkaitan dengan keselamatan rem, ban, mesin, dan lain lai perlu diperiksa apakah baik atau tidak. Kemudaian apakah si pengemudi itu sangat lelah, tergesa-gesa, apakah ia memiliki SIM. Apabila tidak SIM, dapat diambil sebagai faktor Kealpaan/Culpa walaupun pengemudi itu sangat mahir mengemudi, (Putusan HR 30 januari 1962, NJ 1962, No. 162)