Ilustrasi/ Klinik Hukum

Definisi Pemidanaan

Pemidanaan adalah penjatuhan pidana, atau pengenaan penderitaan pada seseorang yang melanggar hukum oleh petugas yang berwenang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Pengenaan penderitaan merupakan sesuatu yang tidak baik/tidak benar (melanggar HAM/sesuatu yang tidak bermoral) walaupun dilakukan atas nama negara, maka dicarilah pembenarannya (dari berbagai dasar pembenaran maka diketahui dasar filosofinya), pembenarannya akhirnya diletakkan pada alasan untuk apa pemidanaan tersebut diberikan (inilah yang berkembang menjadi teori/falsafah pemidanaan).

Dari berbagai macam teori yang berkembang tentang tujuan pemidanaan, maka dapat dikelompokkan menjadi :

  1. pembalasan (retributif);
  2. tujuan (utilitarian).

Namun kebanyakan sarjana mengelompokkan alasan-alasan pemidaan yang berkembang menjadi tiga teori :

  1. Teori Pembalasan (retribution/ absolut)
  2. Teori Tujuan (utilitarian/doeltheorieen/relatif)
  3. Teori Gabungan (verenigingstheorieen)

Karakteristik Teori Retributition (Karl O. Andenaes)

  1. Tujuan pidana adalah semata-mata pembalasan
  2. Pembalasan adalah tujuan utama dan di dalamnya tidak mengandung sarana-sarana untuk tujuan lain misalnya untuk kesejahteraan masyarakat
  3. Kesalahan merupakan satu-satunya syarat untuk adanya pidana
  4. Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan si pelanggar
  5. Pidana melihat ke belakang; ia merupakan pencelaan yang murni dan tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik atau memasyarakatkan kembali si pelanggar.

Karakteristik Teori Utilitarian (Karl O. Cristiansen)

  1. Tujuan pidana adalah pencegahan
  2. Pencegahan bukan tujuan akhir tetapi hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu kesejahteraan masyarakat
  3. Hanya pelangaran-pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan kepada si pelaku (dengan sengaja atau alpa) yang memenuhi syarat untuk adanya pidana
  4. Pidana harus ditetapkan berdasarkan tujunnya sebagai alat untuk pencegahan kejahatan
  5. Pidana melihat ke depan, pidana dapat mngandung unsur pencelaan, tetapi unsur pencelaan dan pembalasan tidak dapat diterima apabila tidak dapat membantu pencegahan kejahatan demi kesejahteraan masyarakat.
Teori pencegahan dapat dibagi menjadi
  1. Teori pencegahan umum (general prevention) tujuannya adalah untuk mempengaruhi tingkah laku masyarakat agar tidak melakukan tindak pidana. Menurut Johannes Andenaes ada tiga pengaruh dalam hal ini
    1. pengaruh pencegahan
    2. pengaruh untuk memperkuat larangan-larangan moral karena dirumuskan dalam undang-undang
    3. pengaruh untuk mendorong kebiasaan patuh pada hukum.
  2. Teori pencegahan khusus (special prevention)
    1. Pengaruhnya terhadap terpidana
    2. Tujuannya mempengaruhi tingkah laku siterpidana agar tidak melakukan tindak pidana lagi/ agar menjadi lebih baik (harus memiliki anasir yang menakutkan)
    3. Harus memiliki anasir yang memperbaiki
    4. Harus mengandung anasir yang mebinasakan bagi yang dianggap sudah tidak bisa diperbaiki.
    5. Tujuan satu-satunya hukuman adalah mempertahankan tata-tertib.

Ada tujuan lain selain pembalasan yang lebih bermanfaat (memasukkan tujuan retributif ke dalam upaya pencegahan pidana diterima karena pengaruh memperbaiki). Berbagai teori tentang pencegahan khusus ini, seperti teori behavioral deterrence (rehabilitation dan incapasitation) yang membuat si terpidana agar tidak mampu melakukan perbuatan lagi dengan jalan memenjarakannya ataupun menghukum mati (khusus bagi pelaku kejahatan yang dianggap sudah tidak bisa dibina lagi)

Teori Gabungan

teori gabungan merupakan gabungan dari teori pembalasan dengan teori tujuan. Pidana dijatuhkan karena seseorang telah melakukan kejahatan (pembalasan), tetapi tidak boleh lebih berat dari perbuatan yang dilakukan (pembalasan yang adil), di samping itu pemidanaannya juga harus memberikan perbaikan dan pengaruh baik pada masyarakat. (Peligrino Rossi) Teori gabungan dapat dibagi menjadi tiga golongan :

  1. Teori gabungan yang menitik beratkan pada teori pembalasan, tetapi tidak boleh melebihi batas yang diperlukan untuk mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Makna tiap hukuman adalah pembalasan, tetapi maksud dari hukuman adalah untuk melindungi tata hukum (Zevevenbergen “hormat terhadap hukum dan pemerintah”) adanya keseimbangan antara teori pembalasan dan teori tujuan.
  2. Teori gabungan yang lebih menitik beratkan pada usaha untuk mempertahankan ketertiban dalam masyarakat (hukuman tidak boleh lebih berat dari perbuatan yang dilakukan). Thomas Aquinas “kesejahteraan umum menjadi dasar hukum perundang-undangan”. Pidana yang dijatuhkan adalah untuk melindungi/menjaga ketertiban yang dapat memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Tetapi karena pidana dijatuhkan pada seseorang yang melakukan kesalahan (kesengajaan) maka harus pula ada pembalasannya. Intinya hukum pidana harus memberikan kepuasan pada masyarakat.
  3. Teori gabungan yang menghendaki adanya keseimbangan antara teori pembalasan dan teori tujuan